Apakah Ajaran Paulus dan Ajaran Yesus Bertentangan?

Berikut akan ditanggap secara singkat tuduhan-tuduhan para Muslim tentang beberapa ajaran Paulus yang dianggap bertentangan dengan alasan Yesus.

1. Ketuhanan Yesus

Tuduhan Muslim: Yesus tidak pernah mengatakan bahwa diri-Nya Tuhan, tetapi hanya utusan. Tetapi Paulus mengajarkan bahwa Yesus adalah Tuhan:

Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus. (Yoh 17:3)

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (1 Kor 8:6)

Tanggapan: Bila ada seseorang yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah mengatakan diri-Nya Tuhan, maka artinya orang tersebut tidak mengerti Injil sepenuhnya. Yesus berkata:

Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.(Yoh 13:13)

Ye call me Master and Lord: and ye say well; for so I am. (KJV)

umeis phōneite me o didaskalos kai o kurios kai kalōs legete eimi gar (T. Receptus)

Mari kita bandingkan dengan perkataan Paulus:

namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita hidup. (1 Kor 8:6)

But to us there is but one God, the Father, of whom are all things, and we in him; and one Lord Jesus Christ, by whom are all things, and we by him. (KJV)

all ēmin eis theos o patēr ex ou ta panta kai ēmeis eis auton kai eis kurios iēsous christos di ou ta panta kai ēmeis di autou (T. Receptus)

Jelas dari kedua ayat tersebut bahwa Paulus mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yesus sendiri. Jadi tidak ada pertentangan antara alasan Paulus dengan alasan Yesus di sini.

2. Hukum Taurat

Tuduhan Muslim: Yesus tidak membatalkan hukum Taurat, tetapi Paulus membatalkannya:

“Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi. (Mat 5:17-18)

sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera (Ef 2:15)

Tanggapan: Apakah menurut Paulus dia membatalkan hukum Taurat? Tidak! Paulus berkata:

Jika demikian, adakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sama sekali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya. (Roma 3:31)

Bukan Paulus yang membatalkan hukum Taurat, tetapi Yesus sendirilah yang membatalkannya:

sebab dengan mati-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera (Ef 2:15)

Bukankah dalam Matius 5:18 Yesus berkata:“Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat.”? Betul, hukum Taurat otomatis ditiadakan bila langit dan bumi lenyap, sebab subyek hukum Taurat yaitu manusia, otomatis juga lenyap. Suatu hukum tidak akan berguna jika subyek hukumnya tidak ada, maka hukum tersebut harus ditiadakan atau dibatalkan. Tetapi, dalam Matius 5:18, Yesus juga menyebutkan suatu pengecualian, yaitu: “…sebelum semuanya terjadi.” Frasa:“semuanya terjadi” bukanlah tentang lenyapnya langit dan bumi, namun tentang sesuatu hal lain, dan ini lebih jelas bila dilihat dari terjemahan lain:

For verily I say unto you, Till heaven and earth pass, one jot or one tittle shall in no wise pass from the law, till all be fulfilled. (Mat 5:18, KJV)

I tell you the truth, until heaven and earth disappear, not the smallest letter, not the least stroke of a pen, will by any means disappear from the Law until everything is accomplished. (Mat 5:18, NIV)

Jadi, sesuatu itu adalah tentang hal yang dipenuhi/fulfilled atau dicapai/accomplished. Dan sesuatu itu adalah tentang semua misi Yesus di bumi, dan puncaknya ada pada kematian Yesus di atas kayu salib. Sebab tujuan Yesus yang utama datang ke dunia adalah untuk menyelamatkan manusia dari dosa mereka (Matius 1:21 ; Yohanes 3:17), bukan hanya sebatas manusia bangsa Israel saja, namun seluruh manusia di bumi yang percaya kepada-Nya (Yohanes 10:16). Dan Dia melakukannya dengan mati di atas kayu salib untuk menebus dosa manusia (Matius 20:28 ; Markus 10:45). Dia mati menggantikan manusia berdosa yang seharusnya menjalani hukuman atas dosa mereka, dan hukuman dari dosa adalah maut (Roma 6:23). Itulah tujuan utama yang dipenuhi dan dicapai oleh Yesus. Dengan hal itulah Yesus membatalkan hukum Taurat, seperti yang dikatakan Paulus dalam Efesus 2:15 di atas bahwa:dengan mati-Nya sebagai manusia, Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan perintah dan
larangannya.”

Jadi jelas bahwa bukan Paulus yang membatalkan hukum Taurat, tetapi Yesus sendiri yang membatalkannya lewat kematian-Nya. Tapi dengan dibatalkannya hukum Taurat, bukan berati umat Kristen tidak mempunyai hukum untuk mengatur moral mereka. Umat Kristen masih mempunyai dasar hukum moral, yaitu hukum Kristus yang disampaikan oleh Yesus setelah merombak hukum Taurat yang tidak berlaku (Matius 5:21 s/d Matius pasal 7). Jadi tidak ada pertentangan ajaran Paulus dengan ajaran Yesus di sini.

3. Sunat

Tuduhan Muslim: Yesus disunat, tapi Paulus mengatakan sunat tidak penting:

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya. (Luk 2:21)

Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah. (1 Kor 7:19)

Tanggapan: Sebenarnya, pada mulanya sunat merupakan salah satu tanda perjanjian antara Abraham (bukan Adam) dan keturunannya (bukan keturunan Adam) dengan Allah, yang harus dipegang oleh Abraham (bukan Adam) dan keturunannya (bukan keturunan Adam):

Lagi firman Allah kepada Abraham: “Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjian-Ku, engkau dan keturunanmu turun-temurun. Inilah perjanjian-Ku, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus disunat; haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah akan menjadi tanda perjanjian antara Aku dan kamu. (Kej 17:9-11)

Hal ini sama dengan yang dikatakan oleh Yesus:

Jadi: Musa menetapkan supaya kamu bersunat–sebenarnya sunat itu tidak berasal dari Musa, tetapi dari nenek moyang kita–dan kamu menyunat orang pada hari Sabat! (Yoh 7:22)

Maka, Yesus yang secara manusiawi adalah keturunan dari Abraham, sudah seharusnya disunat. Selain itu, Allah mengadakan perjanjian tersebut agar Dia menjadi Allah Abraham dan keturunannya:

Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. (Kej 17:7)

Musa dan Allah memperbaharui perjanjian Abraham dan Allah melalui keturunan Abraham, yaitu bangsa Israel dengan Musa sebagai perantaranya:

Diambilnyalah kitab perjanjian itu, lalu dibacakannya dengan didengar oleh bangsa itu dan mereka berkata: “Segala firman TUHAN akan kami lakukan dan akan kami dengarkan.” Kemudian Musa mengambil darah itu dan menyiramkannya pada bangsa itu serta berkata: “Inilah darah perjanjian yang diadakan TUHAN dengan kamu, berdasarkan segala firman ini.” (Kel 24:7-8)

Karena bangsa Israel terus menerus melanggar perjanjian yang lama, karena tidak  mematuhi perintah-Nya, maka Allah suatu saat akan mengadakan perjanjian baru: YEHEZKIEL 31:31-34.

Sesungguhnya, akan datang waktunya, demikianlah firman TUHAN, Aku akan mengadakan perjanjian baru dengan kaum Israel dan kaum Yehuda,
bukan seperti perjanjian yang telah Kuadakan dengan nenek moyang mereka pada waktu Aku memegang tangan mereka untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir; perjanjian-Ku itu telah mereka ingkari, meskipun Aku menjadi tuan yang berkuasa atas mereka, demikianlah firman TUHAN. Tetapi beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.(Yer 31:31-34)

Dan Yesuslah yang menjadi perantara perjanjian baru tersebut:

Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa. (Mat 28:28)

Allah melalui perjanjian baru tersebut akan mengampuni dosa manusia, yaitu dengan kematian Yesus di atas kayu salib untuk menebus dosa orang-orang yang percaya. Maka, syarat sunat fisik dalam perjanjian lama sudah tidak diperlukan lagi, sebab Allah telah memberikan sebuah perjanjian baru. Bukan sunat fisik yang menjadi syarat perjanjian baru itu, namun imam kepada Yesus Kristus bahwa melalui kematian-Nya untuk menebus dosa manusia, Allah telah mengampuni dosa manusia.
Sekali lagi, Yesus disunat karena Dia merupakan keturunan Abraham yang masih terikat perjanjian lama, sebelum perjanjian baru dimulai. Dan selama hidup sebagai manusia di bumi, Dia telah memenuhi syarat perjanjian lama, termasuk hidup berdasarkan ketetapan dan firman Allah, hidup tanpa dosa. Dan Dia menjadi perantara perjanjian baru. Perlu dicatat juga bahwa Yesus tidak pernah mewajibkan sunat kepada para pengikut-Nya sebagai syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga.
Jadi, sunat memang sudah tidak penting karena sudah diperlukan lagi sebagai syarat dalam perjanjian baru. Tidak ada pertentangan antara ajaran Paulus dengan ajaran Yesus di sini.

4. Dosa Waris

Tuduhan Muslim: Yesus tidak pernah mengajarkan dosa waris, tetapi Paulus mengajarkan:

Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: /”Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. (Mark 10:14)

Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. (Yeh 18:20)

Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa. (Roma 5:12)

Tanggapan: Dalam  Markus 10:14, Yesus tidak mengatakan atau bermaksud menunjukan bahwa anak-anak tersebut tidak berdosa. Tetapi maksud Yesus adalah untuk menunjukan bahwa orang-orang yang datang kepada-Nya lah yang akan masuk ke Kerajaan Sorga, yaitu orang-orang yang menerima dan percaya kepada-Nya. Ayat berikutnya akan memperjelas maksud ini: YOHANES 10:15

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya. (Mark 10:15)

Lalu untuk Yehezkiel 18:20 alasan mengapa tersebut tidak turut menanggung kesalahan ayahnya sebab:

Tetapi kamu berkata: Mengapa anak tidak turut menanggung kesalahan ayahnya? Karena anak itu melakukan keadilan dan kebenaran, melakukan semua ketetapan-Ku dengan setia, maka ia pasti hidup. (Yeh 18:19)

Lalu untuk masalah Dosa Waris, ketika orang Kristen berbicara tentang Dosa Waris, yang dimaksud adalah tentang dosa Adam. Bukan tentang dosa seseorang, yang misalnya mencuri sesuatu dari orang lain, maka dosa orang itu akan diwariskan kepada anaknya. Bukan. Tetapi tentang dosa Adam yang oleh karenanya manusia menjadi tidak sempurna lagi dihadapan Allah. Adam pertama laki diciptakan Allah dengan sempurna , tanpa dosa. Dalam kesempurnaannya itu, Adam dapat menikmati hubungannya dengan Allah dan dapat hidup kekal di taman Eden. Namun semenjak Adam melakukan pelanggaran terhadap firman Allah, dia, dan juga istrinya, diusir dari taman Eden dan mendapatkan kutukan dari Allah, salah satunya adalah kematian (Kejadian 3:19). Kutuk tersebut merupakan tanda bahwa manusia berdosa dihadapan Allah. Karena kutuk tersebut, Adam dapat mengalami kematian fisik yang mana seharusnya tidak akan dia alami jika dia tidak melanggar firman Allah. Dan begitu juga manusia-manusia keturunannya juga mengalami kematian fisik atas kutukan dosa Adam, yang artinya mereka juga berdosa di hadapan Allah. Bahkan seorang bayi yang baru lahir bisa mengalami kematian fisik. Maka dari itu, tidak ada manusia yang tidak berdosa di hadapan Allah, seperti yang dikatakan para nabi:

Apabila mereka berdosa kepada-Mu-karena tidak ada manusia yang tidak berdosa-dan Engkau murka kepada mereka dan menyerahkan mereka kepada musuh, sehingga mereka diangkut tertawan ke negeri musuh yang jauh atau yang dekat (1 Raja 8:46)

Janganlah beperkara dengan hamba-Mu ini, sebab di antara yang hidup tidak seorangpun yang benar di hadapan-Mu. (Maz 143:2)

Siapakah dapat berkata: “Aku telah membersihkan hatiku, aku tahir dari pada dosaku?(Ams 20:9)

Dan juga ayat berikut menunjukan bahwa manusia berdosa sejak bayi:

Sesungguhnya, dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku. (Maz 51:5)

Sejak lahir orang-orang fasik telah menyimpang, sejak dari kandungan pendusta-pendusta telah sesat. (Maz 58:4)

Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan? (Ayub 15:14)

Engkau tidak mendengarnya ataupun mengetahuinya, juga telingamu tidak terbuka dari sejak dahulu; tetapi Aku telah mengetahui, bahwa engkau berbuat khianat sekeji-kejinya, dan bahwa orang menyebutkan engkau: pemberontak sejak dari kandungan. (Yes 48:8)

Bagaimana manusia dapat memiliki kesempurnaannya (tanpa dosa) lagi? Yaitu dengan bertobat dan kembali ke jalan Allah, yang dibuktikan dengan percaya pada firman-Nya, maka Allah akan mengampuni dan membersihkan dosa mereka. Termasuk pada firman-Nya bahwa Dia akan membangkitkan seorang Penebus bagi manusia, yang akan menanggung hukuman atas dosa semua manusia supaya manusia dapat diselamatkan dan disembuhkan dari dosa (Yesaya 53:4-5), yaitu Yesus Kristus (Matius 20:28, Markus 10:45) supaya manusia mendapatkan lagi kehidupan kekal bersama Allah setelah hari Penghakiman.

Itulah yang dimaksud tentang Dosa Waris. Banyak Muslim salah paham tentang Dosa Waris dengan menyamakannya dengan dosa mencuri atau lainnya yang dilakukan seseorang.

Jadi sekali lagi, tidak ada pertentangan antara ajaran Paulus dengan alasan Yesus.
Dari beberapa tanggapan tentang tuduhan Muslim di atas, maka terlihat bahwa Muslim tidak mengerti ajaran dalam Alkitab. Mereka hanya menuduh untuk mendiskreditkan ajaran Kristen dengan mengkambinghitamkan Rasul Paulus. 2 PETRUS 3:15-16

Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, seperti juga Paulus, saudara kita yang kekasih, telah menulis kepadamu menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya. Hal itu dibuatnya dalam semua suratnya, apabila ia berbicara tentang perkara-perkara ini. Dalam surat-suratnya itu ada hal-hal yang sukar difahami, sehingga orang-orang yang tidak memahaminya dan yang tidak teguh imannya, memutarbalikkannya menjadi kebinasaan mereka sendiri, sama seperti yang juga mereka buat dengan tulisan-tulisan yang lain.

(2 Petrus 3:15-16)

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Kristologi dan tag , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s