Allah Yang Esa

“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!” (Yakobus 2:19)

HANYA ADA SATU ALLAH

Alkitab, yang berisi Firman Tuhan yang diinspirasikan yang pernah ada dan tidak pernah akan berubah, menyatakan bahwa hanya ada satu Allah. Ini adalah fakta yang sesungguhnyal bahwa Alkitab adalah kitab tertua yang pernah ada. Jadi, jika ada kitab lain yang di dalamnya terdapat pernyataan bahwa Allah adalah satu, Alkitab telah mendahuluinya dalam menyatakan fakta ini. Berikut ini adalah beberapa kutipan dari Alkitab mengenai kenyataan bahwa Allah adalah satu.

Dari Perjanjian Lama:
“Sebab itu ketahuilah pada hari ini dan camkanlah, bahwa TUHANlah Allah yang di langit di atas dan di bumi di bawah, tidak ada yang lain.” (Ulangan 4:39)
“Akulah TUHAN dan tidak ada yang lain; kecuali Aku tidak ada Allah.” (Yesaya 45:5)
“Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita?” (Maleakhi 2:10)
“Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:4-5)

Dari Perjanjian Baru:
“Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!.’” (Matius 4:10)
“Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia” (Markus 12:32)
“Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik!.” (Yakobus 2:19)
“Seorang pengantara bukan hanya mewakili satu orang saja, sedangkan Allah adalah satu.” (Galatia 3:20)
“Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus,.” (1 Timotius 2:5)

Makna keesaan Tuhan
Jelas bahwa keesaan Tuhan berbeda dari keesaan manusia. Keesaan manusia adalah terbatas. Jadi tidak mungkin bagi satu orang manusia untuk berada di dua tempat berbeda pada waktu yang sama. Tetapi Allah dapat berada di takhta-Nya di surga dan, pada saat yang sama, berada di sini di dunia ini. Hal ini bukanlah hal yang mustahil  atau sulit bagi Allah. Dan hal ini juga tidak berarti bahwa satu bagian dari diri-Nya di sorga sementara bagian lainnya di bumi. Tetapi berarti bahwa Allah, dalam sepenuh kemuliaan-Nya, dapat berada di tahta-Nya di surga dan pada waktu yang sama berada di sini di dunia ini.

Ini adalah hal yang terjadi ketika Kristus datang ke dunia ini. Alkitab menyatakan dengan jelas bahwa di dalam Kristus “berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan” (Kolose 2:9). Ini adalah apa yang kita sebut Inkarnasi. Kita mungkin pernah mendengar cerita tentang seorang raja yang menyamar sebagai rakyat jelata dan pergi untuk mengunjungi rakyatnya tanpa membawa serta para hamba atau pengawalnya agar tidak menakut-nakuti rakyatnya, dan dalam rangka untuk melihat kebutuhan mereka dan untuk membantu mereka. Kita pastinya akan menggagumi perbuatan raja tersebut, karena kerendahan hatinya mau turun langsung menemui rakyatnya dengan menanggalkan untuk sementara kemuliaannya sebagai raja.

Tapi siapa yang paling besar di antara semua? Bukankah Allah Mahakuasa? Dan siapa yang paling mulia? Bukankah Dia yang menciptakan mereka semua? Sebagai kesimpulan, kami menyatakan, dan Allah juga secara tegas menyatakan, bahwa “Allah adalah satu!” Tetapi ke-SATU-an-Nya tidak sama dengan ke-SATU-an manusia, karena Allah tidak terbatas. Dan pikiran manusia tidak dapat membayangkan kedalaman ke-Ilahian-Nya. Oleh karena itu manusia seharusnya bangga dengan apa yang telah Allah nyatakan tentang diri-Nya.

APA YANG ALLAH NYATAKAN?
Manusia tidak dapat benar-benar tahu tentang Allah kecuali dari wahyu ilahi. Tidak mungkin bagi pikiran manusia yang terbatas untuk memahami sepenuhnya sifat Allah yang tak terbatas. Oleh karena itu,  Allah menyatakan diri-Nya kepada kita melalui tulisan-tulisan yang berasal dari pengilhaman Ilahi, dan bahwa Dia melindungi dan menjaganya dari setiap upaya untuk mengubahnya walau hanya satu kata . Sudah pasti bahwa Firman Allah tetap hidup untuk selamanya, sebagai nabi telah berkata: “Untuk selama-lamanya, ya TUHAN, firman-Mu tetap teguh di sorga.” (Mazmur 119:89). Dan Perjanjian Baru menyatakan bahwa “firman Allah, yang hidup dan yang kekal” (1 Petrus 1:23).

Sifat Keilahian
Sebelum Kristus naik ke surga, Ia memerintahkan murid-murid-Nya “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi, Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama (name) Bapa dan Anak dan Roh Kudus “(Matius 28:18,19). Perhatikan bahwa Dia tidak mengatakan kepada mereka, “dalam nama-nama (names) Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” Dia berkata, “dalam nama karena Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu, yang mulia dan yang benar dari Allah yang hidup.

Tetapi seseorang mungkin tidak setuju dan berkata, “Bagaimana bisa? Bagaimana bisa tiga menjadi satu?” Keberatan ini berasal dari kesalahan besar dalam mencoba menerapkan aturan fisika dan matematika pada Ketuhanan. Di sinilah letak kesalahan dan penyebab kebingungan. Allah Yang Mahakuasa, yang menciptakan alam semesta, tidak dapat diikat dengan hukum matematika atau hukum-hukum alam lainnya. Kita tidak bisa, dan seharusnya tidak, menerapkan hukum-hukum tersebut pada hal-hal spiritual.

Bapa, Anak, Roh Kudus: Satu Allah
Jelas bahwa Alkitab mengajar kita bahwa hanya ada satu Allah. Sekarang mari kita lihat tentang ke-SATU-an Bapa, Anak, dan Roh Kudus di tujuh tempat di dalam Alkitab.

1. “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama (name, bukan names/nama-nama) Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Matius 28:19). Ini adalah satu nama dari satu Allah sebagaimana yangtelah kita lihat.
2. “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku, “dan Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku. Bapa-Ku, yang memberikan mereka kepada-Ku, lebih besar dari pada siapa pun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.Aku dan Bapa adalah satu.” (Yohanes 10:27-30).
3. Kata Filipus kepada-Nya: ”Tuhan, tunjukkanlah Bapa itu kepada kami, itu sudah cukup bagi kami.” Kata Yesus kepadanya: ”Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.(Yohanes 14:8-10).
4. “Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” (Roma 8:9). Jadi Roh Kudus juga disebut Roh Kristus karena keesaan Tuhan.
5. Tetapi seperti ada tertulis: ”Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah. Siapa gerangan di antara manusia yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri manusia selain roh manusia sendiri yang ada di dalam dia? Demikian pulalah tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah.(1 Korintus 2:9-11).
6. Petrus berkata: ”Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu? Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu? Mengapa engkau merencanakan perbuatan itu dalam hatimu? Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.”(Kisah 5:3-4). Dengan demikian kita melihat bahwa mendustai Ro Kudus adalah mendustai Allah karena Roh Kudus adalah Allah dan adalah satu dengan Bapa dan Anak.
7. Yesus berkata, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Matius 12:28). Dengan demikian kita melihat bahwa Putra di dalam Bapa, dan Bapa di dalam Anak. Roh Kudus adalah Roh Allah dan Dia adalah Roh Kristus.

Oleh karena itu kita melihat bahwa Alkitab mengajar kita bahwa Allah adalah satu, dan bahwa Bapa, Anak, dan Roh Kudus adalah satu-satunya Allah yang benar dan yang hidup. Kesulitan dan kebingungan kita adalah karena keterbatasan pikiran manusia, dan upaya yang salah dalam menganalisis Allah dengan cara yang sama dalam menganalisis masalah-menurut hukum fisika, kimia, ataupun matematika. Hukum-hukum ini berlaku untuk materi, tapi tidak dapat diterapkan kepada Allah.

Apa arti Bapa dan Anak?
Tidak ada orang yang cerdas yang akan berpikir bahwa Allah mengambil seorang istri atau seorang gundik. Pemikiran seperti itu akan menjadi penghujatan terhadap Allah. Orang Kristen pun tidak akan berpikiran seperti itu karena Allah bukanlah manusia seperti kita. Alkitab mengatakan, “Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” (Yohanes 4:24). Dengan kata lain, ibadah mereka tidak boleh sekadar ritual dan tata cara yang berkaitan dengan daging, ataupun tempat-tempat dan posisi tertentu, sebagaimana  konteks dalam Yohanes 4:19-26.
Ke-anak-kan Kristus adalah hubungan rohani, dan bukan satu procreational secara fisik. Ini menandakan kesatuan dalam hakikat dan esensi. Harus disadari bahwa bukan orang Kristen yang memberi gelar Kristus Anak Allah, tetapi Allah sendiri yang menyebut Yesus Anak-Nya:

1. Ketika Malaikat Gabriel diutus dari Allah untuk Maria, ia berkata kepadanya: “Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus……Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. ” (Lukas 1:28 -35).
2. Ketika Kristus dibaptis oleh Yohanes Pembaptis , langit terbuka dan terdengar suara dari surga berkata, Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Lukas 3:22 ; Markus 1:11; Matius 3:17).
3. Dan  Yohanes Pembaptis berkata tentang Yesus: “Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.” (Yohanes 1:34).
4. Ketika Kristus mengambil tiga dari murid-muridNya ke sebuah gunung yang tinggi,  nabi Musa dan Elia tampak kepada mereka: Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.” Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan. (Matius 17:1-8, Markus 9:7; Lukas 9:35).

Ada banyak ayat lain dalam Alkitab yang menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah, Anak Allah yang menunjukkan suatu hubungan ilahi yang berada di atas pemahaman manusia. Inilah sebabnya mengapa Alkitab mengatakan, “Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: ”Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.” (1 Timotius 3:16). Dengan demikian kita melihat bahwa Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Bapa dan Anak dan Roh Kudus, kadang-kadang disebut sebagai Allah Tritunggal, semua adalah satu Allah. Ini adalah kebenaran ilahi, dan dia yang menyangkal hal itu membuatnya menjadi seorang penyangkal kebenaran Allah . Tapi dia yang percaya ia menemukan di dalamnya kebahagiaan yang kekal dan berkat, seperti yang akan kita lihat sekarang.

Allah Tritunggal dan Keselamatan Manusia
Jelaslah bahwa sejauh menyangkut manusia, yang paling penting adalah baginya untuk menerima pengampunan dosa, sehingga ia akan masuk surga dan tidak akan dilemparkan ke dalam neraka. Tuhan berkata mengenai diriNya sendiri, bahwa Dia adalah “Allah yang adil dan Juruselamat” (Yesaya 45:21). Tapi bagaimana Tuhan yang adil yang menghukum setiap pelanggaran sekecil apapun pada saat yang sama menjadi seorang Juruselamat yang dapat mengantarkan manusia dari dosa dan hukuman mereka? Dengan kata lain, bagaimana bisa menjadi penghukum dan pada saat yang sama juga pengampun?

Di sini pikiran manusia tidak berdaya. Tuhan akan mengampuni dan dengan demikian akan menaruh belas kasihan dan penyayang, atau akankah Dia menghukum dengan adil tetapi tidak penyayang? Tidak mungkin bagi manusia dan malaikat bersama-sama untuk mencari jalan keluar untuk dilema ini. Tetapi Allah memiliki jawabannya, dan dari jawaban-Nya kita dapat melihat kebijaksanaan dan kekuasaan-Nya. Kita melihat kasih-Nya dan rahmat-Nya serta keadilan dan kekudusan-Nya.

Solusi manusia untuk pertanyaan ini semuanya rusak dan menyebabkan  kutukan manusia, karena dosa adalah masalah yang sangat serius di hadapan Allah. Dosa adalah penghinaan kepada Allah karena ketidaktaatan kepada-Nya. Jika Anda menghina orang biasa, Anda mungkin mendapatkan hukuman yang ringan. Tetapi jika anda menghina raja atau seorang presiden, hukuman Anda jauh lebih berat. Tetapi seberapa berat akibatnya jika Anda tidak taat kepada Allah, baik oleh pikiran atau dengan kata-kata atau perbuatan? Anggapan bahwa Allah akan menempatkan perbuatan baik di satu sisi dengan skala tertentu, dan perbuatan-perbuatan yang jahat di sisi lain dengan skala tertentu pula untuk menentukan yang lebih besar, adalah anggapan yang salah. Bagi Allah hal tersebut tidak berlaku. Perbuatan yang baik tidak akan menghapus pelanggaran yang telah dilakukan, baik dalam hukum manusia maupun hukum Allah. Jika hal itu benar,  maka kita harus dapat mengetahui ukuran suatu dosa dalam pandangan Allah. Kita harus tahu berapa besar bobot dosa jika berbohong, berapa besar bobot dosa  setiap berpikiran jahat,  akhirnya berapa besar bobot total dosa kita. Bagi yang percaya bahwa perbuatan baiknya dapat menghapus menebus dosa-dosanya hanya akan menemukan kenyataan bahwa dia akan terlempar ke neraka, sebab saya yakin hampir seluruh umat manusia pasti mempunyai bobot dosa yang lebih besar dari pada perbuatan baiknya. Jadi, apa solusi untuk masalah ini? dan bagaimana Tuhan dapat menjadi “Tuhan yang Adil sekaligus Juruselamat” pada waktu yang sama? Jawabannya ada dalam Inkarnasi Kristus.

Inkarnasi Kristus
Kita melihat bahwa Alkitab mengajarkan bahwa Kristus adalah Anak Allah, dan bahwa Anak Allah adalah Anak Allah yang bukan secara fisik, maupun hasil dari keturunan, karena Allah adalah Roh. Ini adalah hubungan spiritual dan ilahi yang melampaui pemahaman manusia. Tetapi kita harus ingat bahwa Kristus juga menjadi manusia yang sempurna, dan Dia berkata tentang diri-Nya, “Anak Manusia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani, dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Matius 20:28). Dengan demikian kita melihat bahwa Kristus datang bukan hanya untuk mengajar dan melakukan mujizat, walaupun Dia jelas-jelas melakukan keduanya. Dia datang terutama untuk menebus kita dengan mati atas nama kita. Hal ini dapat dilakukan jika Dia menjadi seorang manusia, sehingga Dia dapat mati untuk kita. Ini adalah alasan Inkarnasi Kristus.

Ada dua alasan mengapa tidak ada orang lain yang bisa menebus kita. Pertama, penebus harus seseorang yang tidak pernah berdosa, jika tidak, dia harus menanggung hukumannya sendiri saja. Kristus adalah satu-satunya yang tidak pernah berdosa. Semua nabi yang benar itu dilindungi dari kesalahan-kesalahan dalam ajaran agama dan nubuat, tetapi tidak dalam kehidupan pribadi mereka sendiri. Mereka semua berdosa. Nabi Daud berkata: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! ” (Mazmur 51:3,4). Tetapi Kristus, dalam Alkitab dinyatakan bahwa Dia adalah “yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga” (Ibrani 7:26). Juga dikatakan bahwa Dia “Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya.” (1 Petrus 2:22). Dan bahwa “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah.” (2 Korintus 5:21), juga “bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.” (1 Yohanes 3:5). Dia adalah satu-satunya Penebus; semua yang lain harus ditebus.

Kedua, Kristus bukan sekadar nabi atau rasul. Dia adalah “Tuhan yang menjelma dalam daging”, baik Allah dan Manusia. Dia adalah Anak Allah, dan Anak Manusia. Oleh karena itu, nilai kematian-Nya tidak terbatas. Dengan kematian-Nya, Ia dapat menebus setiap orang yang percaya kepada-Nya: “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” (1 Yohanes 2:2). Kristus adalah Allah dan Manusia. Dan tentu saja, Allah tidak dapat mati. Yang mati adalah hakikat Manusia-Nya yang sempurna saja, Yesus Kristus, yang berkenan bagi Allah dalam segala hal, dan yang mengatakan bahwa Ia datang “untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

Kematian Kristus atas nama kita adalah kenyataan pasti yang setidaknya memiliki empat bukti yang nyata. Pertama-tama, para nabi berbicara tentang hal itu ratusan tahun sebelum Kristus datang. Nubuat ini masih ada dalam Perjanjian Lama, yang merupakan kitab suci orang Yahudi. Mereka juga tidak juga tidak bisa menghapus satu kata dari itu. Kedua, Kristus mengatakan kepada murid-murid-Nya berkali-kali sebelum kematian-Nya, bahwa orang Yahudi akan membunuh-Nya dan bahwa Ia akan bangkit pada hari ketiga. Ketiga, tercatat untuk kita oleh saksi mata. Terakhir, Alkitab, baik dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, membuatmenjelaskan bahwa kematian Kristus adalah satu-satunya jalan bagi keselamatan manusia.

Sekarang kita sampai pada peran Bapa, Anak, dan Roh Kudus dalam keselamatan manusia. Alkitab mengatakan bahwa “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). Dengan demikian kita melihat bahwa Bapa mengasihi manusia dan menginginkan keselamatan, dan sang Anak  rela membayar harga untuk mewujudkan keselamatan tersebut. Roh Kudus membangkitkan hati nurani manusia dan “akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman” (Yohanes 16:7-8), sehingga ia akan menerima Kristus sebagai Juruselamat. Jadi Allah menyelamatkan manusia melalui kasih-Nya, tetapi tidak dengan mengorbankan kekudusan dan keadilan-Nya. Tidak ada keselamatan lain kecuali dari  yang ditawarkan oleh Allah –  Bapa, Anak dan Roh Kudus – satu-satunya yang benar dan Allah yang hidup.

Pos ini dipublikasikan di Kristologi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s