Apakah Umat Kristen dan Islam Menyembah Allah Yang Sama?

Satu generasi yang lalu, banyak orang di Barat (termasuk beberapa orang Kristen) bertanya-tanya: mungkinkah umat agama lain menyembah Tuhan yang sama seperti Allah umat Kristen?. Biasanya, pertanyaan ini dipicu dengan melihat banyaknya agama-agama yang berbeda di bumi. Sekarang ini, umat Kristen masih mendengar pertanyaan yang sama dan sering kali kita mendengarnya langsung dari tetangga atau pekan kerja Muslim – yang sekarang ini beremigrasi ke Barat dalam jumlah yang besar dan menjadi umat non-Kristen terbesar. Tidak jarang pula mendengar komentar ramah seorang Muslim kepada tetangga Kristennya:” Anda tidak begitu berbeda dengan kami, kami menyembah Allah yang sama seperti anda.” Pada masa sekarang yang didominasi oleh pluralisme agama dan toleransi terhadap kebudayaan lain, umat Kristen semakin bingung dengan pertanyaan itu, apakah Muslim menyembah Allah yang sama seperti umat Kristen?

Jika seseorang hanya fokus pada kesamaan tertentu saja, mungkin akan gampang mengiyakan, terutama ketika anda menyadari bahwa Muslim percaya – seperti halnya umat Kristen – pada satu Tuhan, yang menciptakan dunia. Tidak hanya demikian, sebab kata “Allah” juga merupakan kata dalam caira arab dari Tuhan, yang selalu digunakan oleh umat Islam untuk menyebut Tuhan mereka. Pertanyaan apakah Muslim dan umat Kristen menyembah satu Allah yang sama akan tetap ditanyakan dan semakin sering, seiring dengan bertambahnya umat Islam di Barat, dan secara global.

Ijinkan saya mengklarifikasi bahwa tujuan saya bukan untuk membantah terhadap penggunaan istilah “Allah” dalam arti umum, seolah-olah menyiratkan bahwa kita seharusnya membuat terjemahan yang baru untuk Alkitab berbahasa Arab. Tujuan saya hanyalah untuk membicarakan kualitas karakter inti dari Allah. “Keesaan” adalah atribut utama dari Tuhan, tetapi bukanlah ada karakter-karakter kunci lainnya yang membedakan antara Allah dengan tuhan-tuhan lainnya? Yang membuktikan bahwa Dialah yang lebih besar? Pertanyaan seperti inilah yang ingin saya pertimbangkan.

Sekarang, setelah kita mengerti benar tentang pertanyaan tersebut, mungkin pembaca gogo tahu “bagaimana seharusnya kita, sebagai orang Kristen, menanggapi tetangga demikian (yang menanyakan hal tersebut)?” Haruslah kita menanggapi dengan mengekpose semua aspek-aspek dari Islam yang kita ketahui bahwa itu salah? Haruslah kita memulai dengan menunjukkan perbedaan-perbedaan yang nyata di antara imam kita dan mereka? Sebagai contoh, Alquran dengan tegas menolak Yesus sebagai Anak Allah dan mereka dengan tegas menyangkal kematian Yesus di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya – yang merupakan jantung dari Injil.

Jika kita memulai untuk membicarakan topik-topik seperti itu dengan penopang Muslim, mungkin akan menimbulkan perabotahan. Alternatif lain adalah dengan mulai membicarakan tentang imam yang umum, seperti ke-esa-an Allah. Pendekatan ini lebih bijaksana (secara umum). Tidak hanya hal itu konsisten dengan contoh karunia yang kita lihat dari kehidupan Kristus (tertana dengan orang biasa), hal itu juga selaras dengan alasan para Rasul (Yohanes 4 ; 1 Korintus 9:19-22 ; 1 Petrus 3:15-16 2 Timotius 2:22-26).

Jika tujuan kita adalah untuk berbicara kebenaran dalam kasih – seperti yang Alkitab perintahkan – kita akan memakai sebuah pendekatan yang lembut. Kita dapat menanggapi komentar dari teman Muslim kita dengan hangat, komentar tentang Muslim dan umat Kristen yang menyembah Allah yang sama. Kita dapat memberinya “keuntungan dari keraguan”. Tentu saja mungkin sekali teman Muslim kita menemukan – pada pemeriksaan yang lebih dekat – bahwa poin-poin bukti pada sebuah jawaban berbeda.

Kita mungkin berkata: “Saya percaya pada satu Tuhan, seperti yang tertulis pada perintah pertama: jangan ada allah lain dihadapan-Ku”( Keluaran 20:3). Dengan memakai pendekatan ini, kita membuat Muslim nyaman sebab kepercayaan tersebut mensuk hal terpenting dalam imannya. Bahkan, sebagian besar Muslim mengakui bahwa perintah ini adalah perintah pertama (dari 10) yang Allah wahyu melalui nabi Musa.

Hal ini penting juga untk tidak hanya memberitahukan versi pendek dari perintah ini. Kita harus membacakannya secara lengkap sepuh yang tertulis di Keluaran 20:2-3, “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakkan. Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku”. Kisah dari kitab Keluaran tersebut, seperti yang diberitakan Alquran, perusah dengan penjelasan Alkita – dalam banyak hal – walaupun versi Alquran tidak ada kisah Kesepuluh Tulah dan Hari Raya Paskah. Faktanya adalah: Muslim tahu garis besar dari kisah penyelamatan erik tersebut, termasuk dalam kisah klimaks ketika Allah membelah Laut Merah. Karena itulah, Muslim cenderung setuju dengan perintah pertama yang tertulis di Keluaran 20:2-3.

Terlihat – dari luar – bahwa Muslim mengakui Allah mengeluarkan tenaga penyelamatan yang luar biasa demi bangsa Israel yang tidak berdaya menghadapi tentara Mesir yang luar biasa. Sayangnya, bagi sebagian umat Islam, penyelamatan yang luar biasa ini merupakan sesuatu yang mereka anggap sendi. Memang benar, mereka mengakui bahwa Allah berkuasa untuk menyelamatkan, namun mereka mengabaikan arti penting dari peristiwa itu, sebab tidak ada nama “Penyelamat” atau “Juru Selamat” pada 99 nama Allah SWT (tidak ada juga yang merupakan sinonimnya seperti “Pembebas” dan “Penebus”)

Alkitab di sisi lain, berulangkali menekankan kekuatan penyelamatan Allah, yang menunjukan bahwa hal itu layak sebagai kriteria yang membedakan Tuhan Sejauh dari tuhan-tuhan lain. Hal ini nampak jelas dari cerita Musa kepada ayah mertuanya, Yitro, seorang Imam Midian. Kita dapat membaca bahwa Musa mengatakan kepadanya:

“‘….segala yang dilakukan TUHAN kepada Firaun dan kepada orang Mesir karena Israel dan segala kesusahan yang mereka alami di jalan dan bagaimana TUHAN menyelamatkan mereka. Bersukacitalah Yitro tentang segala kebaikan yang dilakukan TUHAN kepada orang Israel, bahwa Ia telah menyelamatkan mereka dari tangan orang Mesir. Lalu kata Yitro:’Terpujilah TUHAN, yang telah menyelamatkan kamu dari tangan orang Mesir dan dari tangan Firaun. Sekarang aku tahu, bahwa TUHAN lebihi besar dari segala allah(Keluaran 18:8-11).

Bagaimana Muslim menanggapi ketika mereka mendengar kisah tersebut? Mereka akan setuju bahwa Allah-nya Nusa pastinya lebih besar dari semua allah lain. Logikanya sederhana dan mudah. Namun tidak seharusnya kita menganggap bahwa kisah ini saja sudah cukup. Kebenaran bahwa Allah berkuasa untuk menyelamatkan perlu diperkuat dengan membaca kisah-kisah dari para nabi lainnya.

Contoh yang baik adalah kisah nabi Hosea yang hidup ratusan tahun setelah Musa. Bangsa Israel adalah “pelupa” sehingga para nabi harus mengingatkan mereka untuk menyembah Allah saja. Kita baca dalam Hosea 13:4 Tetapi Aku adalah TUHAN, Allahmu sejak di tanah Mesir, engkau tidak mengenal allah kecuali Aku, dan tidak ada Juru Selamat selain dari Aku.”

Sebagian besar Muslim setuju bahwa Hosea 13:4 menggemakan perintah pertama, namun bagian terakhir dari ayat tersebut yang mengatakan bahwa “tidak ada Juru Selamat selain Aku“, adalah hal asing bagi Muslim. Ada beberapa Muslim yang menganggap bahwa sebutan itu tidak valid untuk kanan sekarang, dan ada beberapa yang dengan tegas melarang menggunakannya. Bagi seorang Kristen yang memahami hal ini, akan sabar dan tabah. Dia tahu bahwa “Bila tersingkap, firman-firman-Mu memberi terang, memberi pengertian kepada orang-orang bodoh” (Mazmur 119:130, lihat juga 2 Timotius 2:24-26).

Ruang tidak mengijinkan saya untuk menjelaskan mengapa Muslim memberi tanggapan yang berbeda terhadap gelap ilahi “Juru Selamat”. Namun demikian, menarik bahwa reaksi ini mengingatkan kita pada pertanyaan awal dari pembahasan ini: “Apakah Muslim dan umat Kristen menyembah Allah yang sama?”.

Tentu saja ada beberapa Muslim yang mengantisipasi ketika topik ini akan dan melompat ke kesimpulan. Di dalam beberapa kasus, mereka bahkan berprasangka terhadap jawaban dari pertanyaan. Namun, kita akan mengamsumsikan – demi pembahasan ini – bahwa teman Muslim yang kita ajak bicara memberikan lampu hijau. Pembicaraan berlanjut dengan kedua pihak menunjukan saling menghargai dan sikap mendidik.

Yunus adalah seorang nabi yang diakui kalangan Muslim yang diselamatkan oleh Allah dari keadaan yang hampir membunuhnya. Sebagaimana diberitakan, para awak kapal adalah orang-orang pertama yang merasakan hampir tenggelam. Mereka putus apa meminta pertolongan berhala mereka, ketika badai mengamuk di sekitar mereka. Tetapi berhala mereka tidak dapat menolong mereka. Namun, mereka akhirnya melakukan apa yang diperintahkan oleh Yunus dan badai pun tiba-tiba berhenti. Nyawa mereka pun terselamatkan. “Orang-orang itu menjadi sangat takut kepada TUHAN, lalu mempersembahkan korban sembelihan bagi TUHAN serta mengikrarkan nazar.”(Yunus 1:16)

Yunus hampir tidak selamat dari amukan badai tersebut, dan lalu dia mengalami peristiwa yang hampir merenggut nyawanya – ditekan oleh seekor ikan besar. Namun, secara ajaib dia diselamatkan oleh Allah. Dari dalam perut ikan, Yunus berdoa: “Ketika itulah Engkau naikkan nyawaku dari dalam liang kubur ya TUHAN, Allahku…Mereka yang berpegang teguh pada berhala kesia-siaan, merekalah yang meninggalkan Dia, yang mengasihi mereka dengan setia. Tetapi aku dengan ucapan syukur akan kupersembahkan korban kepada-Mu….Keselamatan adalah dari TUHAN(Yunus 2:6-9)

Ada lagi sebuah kisah yang tidak diceritakan Alquran, tetapi menarik untuk dibaca bagi Muslim, kisah tentang Sadrakh, Mesakh dan Abednego (Daniel 3). Mereka melanggar perintah Raja Nebukadnezar untuk menyembah kepada sebuah berhala. Setiap Muslim pasti setuju bahwa hal ini adalah sebuah tindakan yang berani dan terpuji. Mereka menghadapi ancaman hukuman dari raja Nebukadnezar karena tidak mematuhi perintahnya. Hukumannya adalah dilempar ke serasian yang menyala-nyala (Daniel 3:6). Mereka lebih memilih mati daripada mengingkari Allah – sebuah tindakan yang mengagumkan dan heroik (terutama di mata Muslim). Allah dengan ajaib menyelamatkan mereka yang membuat Nebukadnezar sangat terkejut sampai dia kemudian memerintahkan semua orang yang ada di istananya “Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa, atau bahasa manapun ia, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh, dan Abedinego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada allah lain yang dapat melepaskan secara demikian itu(Daniel 3:29).

Semua kisah tersebut menunjukkan bahwa Allah berkuasa untuk menyelamatkan. Tidak hanya itu, di setiap kisah tersebut setiap semula berhala dihadapkan dengan satu Allah saja yang patut untuk disembah. Setiap kisah menguatkan apa yang kita pelajari dari Yitro, bahwa kekuatan penyelamatan Allah membedakan diri-Nya sebagai yang benar-benar unik (dan lebih besar dari) para berhala. Seperti yang kita bicarakan kisah-kisah tersebut dengan teman Muslim kita, kita seharusnya lebih lagi mendoakan agar Roh Allah bangkit pada diri mereka, sebuah kelaparan yang mendalam untuk membaca Alkitab bagi diri mereka sendiri.

Sekarang, mari kita bercermin sekali lagi pada kisah di kitab Keluaran. Kali ini, kita akan memberikan perhatian khusus pada implikasinya terhadap dunia luas. Perhatikan bagaimana Allah berfirman kepada Firaun: “akan tetapi, inilah sebabnya Aku membiarkan engkau hidup yakni supaya memperlihatkan kepadamu kekuatan-Ku, dan supaya mana-Ku dimasyhurkan di seluruh bumi(Keluaran 9:16). Firaun mengeraskan hatinya di setiap seri konfrontasi yang terjadi di antara Musa dan Firaun. Firaun tetap mengeraskan hatinya dan tulah pun menjadi lebih dan lebih parah. Akhirnya, Allah menimpakan kepada Firaun dan rakyatnya dengan sebuah Tulah yang paling buruk dari semua bencana yang pernah dan yang akan menimpa Mesir (Keluaran 11:6). Bencana itu sangatlah besar sehingga bergema di seluruh dunia. Kisah erik dari kitab Keluaran tersebut telah digemakan selama berabad-abad, dan telah dipopulerkan 60 tahun yang lalu melalui sebuah film block buster, The Ten Commandments.

Lama setelah sebagian besar film telah dilupakan, film ini masih tetap terjual, hanya beberapa tahun lalu film ini telah didigitalisasi. Dan tentunya sekarang kisah dari kitab Keluaran tersebut menjadi lebih terkenal semenjak Steven Spielberg memproduksi versi animasinya, The Prince Of Egypt. Seperti film The Ten Commandments yang beredar di seluruh dunia, faktanya film tersebut telah di dubbing ke dalam 1s bahasa! Pikirkan hal ini akan menyadari bahwa kisah epik ini tidak hanya untuk Muslim, tetapi juga untuk umat agama lain seperti Sikh, Jains, New Age dan bahkan Hindu! Tidak ada batasan kemungkinan kisah ini dengan pengikut agama lain.

Secara signifikan, film ini telah membantu menyebarkan kemasyhuran Allah Israel, yang memberikan 10 perintah melalui Musa. Walaupun banyak Muslim yang akan setuju bahwa Allah mendapatkan kemasyhuran di seluruh dunia dengan mengalahkan Firaun dan berhalanya, beberapa mungkin lebih pula mengatakan bahwa gelap Juru Selamat memiliki relevansi khusus hanya untuk orang Yahudi. Lagi pula, bangsa Israel lah yang diselamatkan oleh Allah, jadi sudah tentu mereka harus menghormati-Nya sebagai Juru Selamat. Apakah iya atau tidak bangsa lain mengakui-Nya sebagai Juru Selamat adalah masalah lain.

Jika Muslim mau berupaya membaca kisah para nabi, mereka akan menyadari bahwa Allah dengan jelas memerintahkan seluruh bangsa untuk menghormati-Nya dengan menggunakan gelap spesifik tersebut. Seperti yang tertulis, “Tidak ada yang lain, tidak ada Allah selain dari pada-Ku! Allah yang adil dan Juru Selamat, tidak ada yang lain kecuali Aku! Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain. Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah….dan semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa (Yesaya 4:6, 22-23).

Bagaimana Allah Juru Selamat (Yahudi) Membawa Keselamatan Bagi Seluruh Bangsa Di Dunia?

Kita telah melihat bagaimana para nabi PL memuji Allah atas keberhasilan-Nya dalam memberikan keselamatan besar. Tapi masih ada sesuatu hal lain yang disorot oleh para nabi yang secara virtual identik dengan kekuatan menyelamatakan, yaitu keselamatan. Para nabi menubuatkan bahwa Hamba Allah akan datang, Sang Mesias. Allah menggambarkan misi sang Mesias bahwa: “Aku akan membuat engkau menjadi terang bagi bangsa-bangsa, supaya keselamatan yang datang dari pada-Ku sampai ke ujung bumi(Yesaya 49:6).

Tujuh ratus tahun kemudian, kita membaca dalam Injil bahwa nubuatan nabi Yesaya dipenuhi ketika Yesus Kristus lahir. Perhatikan bagaimana kisah kelahiran ini – di Alkitab dan Alquran – mengatakan tentang sebuah mana yang diwahyukan melalui seorang malaikat (Qs 3:45 ; Matius 1:21). Keyakinan umum ini cocok untuk pembicaraan bersahabat antara Muslim dan Kristen. Lebih jauh lagi seperti yang kita renungkan tanda ajaib dari Allah (lihat Qs 30:21 ; 21:91), pembicaraan ini lebih merangsan “dibumbui dengan garam” (Kolose 4:6). Harapan kita adalah supaya Muslim akan termotivasi untuk secara spesifik menjelajahi bagaimana sang Mesias membawa keselamatan.

Berbicara tentang memberikan mana kepada anak, menarik untuk dilihat bagaimana Muslim terdorong untuk memilih mana yang berarti bagi anak mereka. Jika hal ini kita terapkan kepada Allah, bagaimana Allah memilih mana untuk Mesias yang baru lahir, kita akan mendapatkan penahanan yang luar biasa. Saya telah bertanya kepada banyak Muslim, “Apakah anda pikir Allah memilih mana bagi Yesus/Isa secara acak seperti undian berhadiah atau anda pikir Dia akan memilih mana yang memiliki arti dan secara bijak?”. Menurut anda, bagaimana dia menjawabnya? Mereka secara konsisten mengatakan bahwa Allah tidak akan memilih mana yang acak, Dia akan memilih mana yang sesuai dengan apa yang Dia tahu tentang masa depan. Seperti seorang penulis Muslim yang mengatakan bahwa mana mencerminkan kepribadian seseorang atau prestasinya. Sebagai umat Kristen kita setuju terutama yang berkenaan dengan mana Yesus!

Beberapa orang Kristen terkejut ketika mengetahui bahwa teman Muslim kita setuju pada poin ini, bahwa Allah memilih mana yang cocok bagi Yesus/Isa. Jadi, kemana lagi arah pembicaraan kita? Apakah kepingan teka-teki berikutnya?

Apa anda ingat nubuat nabi Yesaya yang telah kita baca beberapa saat yang lalu? (Yesaya 49:6). Pilihan strategis ini dari sebuah mana menyediakan sebuah petunjuk bagi mereka yang akan “merenungkan” tanda Allah ini (cf. Qs 30:21). Nama dari Yesus sendiri berarti “Allah adalah Keselamatan”, cocok dengan rangkuman Yesaya 49:6.

Anda akan mengingat bagaimana para nabi PL menggambarkan kekuatan penyelamatan Allah dengan menyelamatkan orang-orang dari keadaan yang mematikan. Sama halnya di PB, Mesias digambarkan sebagai penyelamat orang-orang yang hidupnya terancam. Menyelamatkan orang-orang seperti itu, cocok dengan mana-Nya:

1. Yesus menyembuhkan orang sakit, tidak hanya yang sakit ringan namun juga yang sakit parah (Matius 11:5, cf. QS 4:113)

2. Yesus menyelamatkan murid-murid-Nya dari amukan badai (Markus 4:35-41)

3. Bahkan Yesus menyelamatkan orang yang telah mati (Yohanes 11 ; Qs 5:113)

4. Yesus menyelamatkan orang-orang dari dosa mereka (Lukas 19:1-10), seperti yang telah kita ketahui dari kisah di PL, bahwa Allah menyelamatkan umatnya dari berbagai situasi berbahaya. Pecahan besar kisah berfokus pada penyelamatan fisik tetapi pada tingkat yang lebih dalam kisah-kisah ini mengandung arti bahwa Allah menyelamatkan dosa mereka dengan mengampuni dosa mereka. Hal yang sama juga dipegang di PB. Yesus tidak hanya menyelamatkan orang-orang secara fisik tetapi juga menyelamatkan mereka secara rohani. Keduanya bermakna penting bahwa Allah bekerja melalui pribadi Yesus untuk menyelamatkan manusia dari kematian (penyelamatan fisik) DAN dari dosa (penyelamatan rohani).

Mungkin anda telah menemukan pemahaman yang dapat membuka mata ini. Anda telah mempelajari bagaimana Muslim dapat mengakui bahwa satu-satunya Allah yang sejauh membuktikan diri-Nya lebih besar dari berhala impoten. Jadi Dia berkuasa untuk menyelamatkan. Anda juga akan terkejut jika melihat bahwa Muslim – dalam dialog dengan seorang Kristen – dapat mengakui nubuat tentang Mesias yang membawa keselamatan Allah ke seluruh dunia (jika mereka tidak setuju, paling tidak mereka bisa merenungkannya).

Seperti telah kita lacak tema keselamatan dari PL sampai PB mungkin anda terkejut mengetahui bahwa beberapa Muslim mengakui bahwa Allah memilih mana untuk Yesus dengan bijak, dan mana ini berati “Allah adalah keselamatan”. Tidak hanya itu, mana itu juga mencerminkan kepribadian Kristus dan prestasi-Nya!

Umat Kristen sendiri mungkin akan bertanya “Bagaimana mungkin bahwa Muslim dapat mengakui banyak keyakinan yang sama namun juga sangat sulit bagi mereka untuk menerima Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat?”. Faktanya, mereka mampu menghubungkan titik-titik. Tidak perlu menjadi seorang ilmuan roket untuk melihat kemana arah pembicaraan ini. Jika kita melihat Lukas 19-1-10 dimana Yesus menyelamatkan/mengampuni seorang pendosa seperti Zakheus, dia mungkin menghubungkan titik-titik sampai pada kematian Kristus, puncak dari karya penyelamatan-Nya di atas kayu salib dimana Dia menanggung semua dosa dunia (Yohanes 1:29). Tiga dari beberapa alasan umum Muslim sulit untuk menerima Mesias sebagai Juru Selamat antara lain:

1. Islam dengan tegas menyangkal kematian Mesias di atas kayu salib

2. Muslim menyangkal ke-ilahian Kristus

3. Untuk menjadi umat Kristus, berarti menjadi murtad dari Islam dan akan dapat hukuman mati sebagai ganjarannya.

Apakah arti dari semua ini dalam kaitannya dengan pembahasan kita sebelumnya, yaitu dalam hal Yang Maha Kuasa (Allah), yang berkuasa untuk menyelamatkan? Kesimpulannya, anggap saja pertanyaan ini merupakan ringkasam dari pembahasan kita “Apakah Allah Juru Selamat Israel ini sama seperti Allah SWT?“.

Dalam poin ini pada perjalanan pembahasan kita, mungkin kita menemukan beberapa Muslim yang tidak sejalan. Harusnya hal ini menyedihkan kita ketika seseorang berpaling dari pengampunan Allah melalui seorang Mediator, Anak Domba Allah, Yesus Kristus.

Saya percaya bahwa anda akan menghargai bagaimana sulitnya menjelaskan tema keselamatan hanya dalam beberapa halaman. Doa saya, semoga penjelasan ini membantu umat Kristen dan Islam yang terlibat dalam membahas kebenaran yang penting ini dengan cara yang ramah yang paling menghargai. Mari kita ingat bagaimana Yesus berkata kepada perempuan Samaria bahwa Allah Bapa mencari orang dari segala latar belakang untuk menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Bagi kita umat Kristen, mari berdoa semoga Roh Allah akan membuka kerabat dan sahabat Muslim kita agar memperoleh penahanan yang segar terhadap keselamatan Allah. Mari kita siap sedia terhadap kesempatan untuk berhubungan dan berbicara satu sama lain seperti sahabat sejati, seperti yang ditunjukan oleh Tuhan kita dalam contoh dialog-Nya dengan perempuan Samaria dalam Yohanes pasal 4.

Seperti kita simpulkan, mari kita simak sebentar pada iman monotheis lainnya, di banyak cara, yang juga paralel dari Islam, yaitu agama bangsa Samaria.

Apakah Tuhan Bangsa Samaria (Elohim) Sama Seperti Tuhan Bangsa Yahudi (Yang Juga Elohim)?

Mungkin anda dapat melihat sebuah kemiripan antara pertanyaan ini dengan apa yang ditanyakan di awal pembahasan ini: “Apakah Allah Alquran (Allah SWT) adalah Allah yang sama seperti yang disembah oleh umat Kristen, terutama oleh umat Kristen Arab?” Jawaban dari kedua pertanyaan tersebut mungkin awalnya tampak “iya”. Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri, “Bagaimana jika Yesus yang menjawab pertanyaan ini?” Jika dibaca dengan cermat, Yohanes pasal 4 menunjukkan bahwa Yesus tidak akan menjawab pertanyaan serupa dengan menyetujuinya. Dia berbicara dengan terus terang kepada perempuan Samaria: “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi….penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian” (Yohanes 4:22-23).

Yesus tidak terang-terang mengatakan kepada perempuan tersebut bahwa pemahamannya terhadap Elohim – nama yang digunakan bangsa Yahudi dan Samaria untuk menyebut Allah Yang Maha Kuasa – adalah salah. Dia berkata kepadanya, “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal“. Dia menunjukan kunci kecacatan dalam agama perempuan itu, “Keselamatan datang dari bangsa Yahudi“. Bangsa Samaria sama seperti halnya umat Islam, membanggakan diri karena monotheistik. Bertahun-tahun mereka menjaga jarak begitu jauh dari sepupu mereka, bangsa Yahudi, sehingga mereka semakin terputus dari (dan tidak menyadari akan) tema keselamatan seperti yang diajarkan oleh para nabi. Tema ini hanya dapat dipahami jika seseorang membaca nubuat-nubuat Mesianik. Nubuat-nubuat tertentu ini tertulis pada kitab-kitab suci yang dicap korup dan tidak pantas dibaca oleh para pemimpin kaum Samaria, yaitu kitab-kitab yang ditulis setelah Pentateuch/Taurat.

Istri saya menggunakan sebuah analogi untuk menjelaskan teka-teki dari pertanyaan ini tentang identitas sebenarnya dari satu-satunya yang disebut Tuhan oleh para pengikut agama monotheis yang berbeda, yaitu Allah atau Elohim. Anggap saja biografi Nelson Mandela ditulis oleh seorang penulis yang jujur dan obyektif. Lalu, ada seorang penulis lain yang tidak jujur menulis sebuah biografi yang memberikan gambaran yang menyimpang dari sosok Mandela. Kedua biografi tersebut menyebutkan nama Nelson Mandela dengan benar (tampak luar) namun salah satunya bukanlah tentang Nelson Mandela yang sebenarnya.

Analogi ini juga menjelaskan nuansa yang lebih halus dari sebuah pemalsuan. Biografi yang palsu yang dengan jelas berbeda dari apa yang setiap orang kenal sebagai sosok Nelson Mandela yang sesungguhnya tidak akan menjual. Biografi palsu tersebut harus mendekati kebenaran agar tampak masuk akal. Di dalam kasus seorang kriminal yang memalsukan uang, semakin uang palsu yang dibuat mirip dengan aslinya, semakin sukses dia akan menipu orang lain. Di awal kita mencatat bagaimana pertanyaan ini diajukan lebih sering dari sebelumnya: “Apakah umat Kristen dan Islam menyembah Allah yang sama?” Sekarang, seperti yang kita simpulkan, saya percaya anda menyadari betapa mendesaknya pertanyaan ini. Inilah kesimpulan dari seluruh pembahasan ini: Atribut khusus Allah yang menonjol yang membedakan Allah sebagai Tuhan Sejauh daripada tuhan-tuhan lainnya adalah bahwa Dia berkuasa untuk menyelamatkan. Dia sendiri adalah Juru Selamat. Hal ini adalah kriteria yang justru diterapkan Yesus kepada perempuan Samaria ketika Dia berkata: “Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi” (Yohanes 4:22)

Artikel ini diterjemahkan dari artikel Do Christians and Muslims Worship The Same God? karya Roland Clarke, sumber online: CLICK!

Pos ini dipublikasikan di Kristologi dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s