Menurut Alquran, Maryam (Ibu Isa) adalah Saudara Perempuan Harun (Saudara Musa)

Menurut Alquran, Maryam/Maria, ibu Isa/Yesus adalah saudara perempuan Harun, saudara Musa, anak Imran/Amram:

(Ingatlah) ketika isteri Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Maka tatkala isteri Insan melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkan seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dari pada syaitan yang terkutuk” (Qs 3:35-36).

Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami, dan dia
membenarkan kalimat Rabbnya dan Kitab-Kitab-Nya, dan dia adalah termasuk orang-orang yang taat (Qs 66:12)

Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-sekali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-sekali bukanlah seorang pezina” (Qs 19:27-28).

Dan juga di dalam Hadis:

Dikisahkan oleh Abu Huraira:Rasulullah berkata: “Ketika setiap manusia dilahirkan, syaitan menyentuhnya pada kedua sisi tubuhnya dengan kedua jarinya, kecuali Isa anak Maryam, yang mana syaitan mencoba untuk menyentuhnya tapi gagal, malah dia hanya menyentuh kulit plasenta” (Sahih Bukhari Book 54 No.506; paralel Sahih Muslim Book 33 No.6429).

Dari ayat-ayat dan hadis di atas tampak jelas bahwa menurut Alquran, Maryam (ibu Isa) adalah saudara perempuan kandung Harun, dan juga adalah anak kandung Imran, dimana Imran adalah ayah kandung dari Musa dan Harun. Padahal, Maryam dan Harun hidup di jaman yang berbeda yang selisihnya lebih dari 1000 tahun!
Jadi, bagaimana bisa terdapat kesalahan sejarah tersebut di dalam Alquran? Hal ini dikarenakan Alquran bukanlah kitab dari Tuhan Yang Mahatahu, tetapi adalah hasil dari karangan Muhammad. Memang Muhammad (katanya) tidak bisa baca tulis, tetapi dia punya mulut dan telinga! Tentunya di sering mendengar kisah-kisah para nabi dari orang-orang Kristen dan Yahudi di jamannya, tetapi karena dia hanya mendengar saja, dia tidak dapat memperoleh cerita yang lengkap dan benar sehingga Muhammad memberikan cerita yang sekenanya kepada para pengikutnya, yang mana dia klaim bahwa kisah tersebut diwahyukan dari Tuhan. Orang-orang Yahudi dan Kristen yang mengenal betul akan kisah para nabi yang sebenarnya, pasti akan menertawakan Muhammad bila mendengar dongeng buatan Muhammad tersebut. Kisah tentang Maryam yang oleh Alquran dikatakan bahwa Maryam adalah saudara perempuan Harun adalah salah satu contoh kebingungan Muhammad tentang kisah para nabi Alkitab yang pernah dia dengar. Kebingungan terletak pada nama saudara perempuan Harun (Miryam) dan ibunda Yesus/Isa (Maria/Maryam), yang mirip:

Lalu Miryam, nabiah itu, saudara perempuan Harun, mengambil rebana di tangannya dan tampillah semua perempuan mengikutinya memukul rebana serta menari-nari (Keluaran 15:20)

Dan nama isteri Amran ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi di Mesir, dan bagi Amran, perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan (Bilangan 26:59).

Muhammad bingung dengan kedua perempuan yang namanya mirip ini, sehingga dia pikir Miryam dan Maria/Maryam adalah perempuan yang sama, yaitu ibu Yesus/Isa!
Menurut Muslim, Muhammad adalah orang yang cerdas, dan saya akui dia pun memang “cerdas” sehingga bisa menjawab sekenanya atas keberatan yang diajukan orang-orang Kristen Najran tentang keganjilan cerita dalam Alquran tersebut, yang mana jawaban tersebut kemudian juga dipakai oleh Muslim untuk menjawab keberatan yang sama:

Mughira b. Shu’ba mengisahkan: Ketika saya tiba di Najran, mereka (orang-orang Kristen Najran) bertanya kepadaku: Kamu membaca “Hai saudara perempuan Harun” (yaitu Hadrat Maryam) dalam Alquran, dimana Musa jauh lama sebelum Isa”. Ketika saya kembali kepada Rasulullah (semoga damai besertanya) saya bertanya kepadanya tentang hal tersebut, dimana beliau berkata: “Orang-orang jaman dahulu biasa memberikan nama (kepada orang-orangnya) setelah mana para  Rasul dan orang saleh yang telah wafat sebelum mereka.” (Sahih Muslim Book 25 No.5326).

Selain itu, pembelaan yang diberikan oleh Muslim adalah bahwa istilah “saudara perempuan Harun” dan “binti Imran” merupakan sebuah expresi untuk menunjukan bahwa Maryam mempunyai garis keturunan dari mereka.

Masalahnya:
Yang pertama, apa yang dikatakan Muhammad bahwa orang-orang (Yahudi) jaman dahulu biasa memberikan mana kepada orang-orangnya setelah mana para Rasul dan orang saleh adalah salah besar. Hal yang dikatakan Muhammad tidak pernah dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Yang benar adalah bahwa orang-orang Yahudi biasa saling menyebut mana dengan menambahkan nama dari mana nenek moyang mereka sesuai dengan garis keturunannya. Bila kebetulan nenek moyang mereka adalah nabi ataupun orang saleh ataupun raja ataupun orang terkenal lainnya, maka akan ditambahkan ke namanya. Tetapi jika nabi atau orang saleh atau raja atau orang terkenal itu bukanlah nenek moyang mereka, maka tidak akan ditambahkan nama mereka ke dalam nama orang -orang Yahudi. Contoh: Yesus anak Daud, artinya Yesus berasal dari keturunan Daud, dan tidak ada kata Yesus anak Saul (Raja Saul) sebab Yesus bukan dari keturunan Saul.

Yang kedua, dari jawaban Muhammad juga terlihat bahwa istilah untuk menyebut Maryam dengan “saudara perempuan Harun” juga merupakan istilah yang digunakan orang-orang (Yahudi) jaman dahulu untuk menunjukkan garis keturunan (seperti argumen Muslim lainnya). Tetapi hal ini juga merupakan kesalahan, sebab orang-orang Yahudi tidak pernah menggunakan istilah “saudara laki-laki ……..” ataupun “saudara perempuan ……..” untuk menunjukkan garis keturunan seseorang. Tetapi yang digunakan adalah “anak ……..” atau “anak perempuan ……..” Jadi tidak ada istilah “Yesus saudara laki-laki Eliab” ataupun “Maria saudara perempuan Eliab”, semenjak Eliab adalah anak Isai dan Isai adalah ayah kandung Daud (jadi Eliab adalah saudara kandung Daud) (1 Samuel 17:12-13) serta Maria dan Yesus adalah keturunan dari Isai.

Yang ketiga, dari argumen Muslim dan Muhammad tersebut juga dapat disimpulkan bahwa mereka menganggap Maria/Maryam adalah keturunan dari Harun (suku para imam) dan Imran (Alkitab: Amram). Hal ini juga suatu kesalahan, sebab Maria bukanlah dari keturunan mereka. Harun dan Imran/Amram adalah keturunan dari Lewi sedangkan Maria adalah keturunan dari Yehuda. Lewi dan Yehuda yang dimaksud di sini adalah anak-anak kandung Yakub dan isterinya, Lea:

Adapun anak-anak lelaki Yakub dua belas orang jumlahnya. Anak-anak Lea ialah Ruben, anak sulung Yakub, kemudian Simeon, Lewi, Yehuda, Isakhar dan Zebulon (Kejadian 35:22b-23)

Inilah nama anak-anak Lewi menurut urutan kelahirannya: Gerson, Kehat dan Merari. Umur Lewi seratus tiga puluh tujuh tahun …. Anak-anak Kehat: Amram, Yizhar, Hebron dan Uziel. Umur Kehat seratus tiga puluh tiga tahun …. Dan Amran mengambil Yokhebed, saudara ayahnya, menjadi isterinya, dan perempuan ini melahirkan Harun dan Musa baginya.  Umur Amran seratus tiga puluh tujuh tahun (Keluaran 6:15, 17, 19)

Dan mana isteri Amran ialah Yokhebed, anak perempuan Lewi, yang dilahirkan bagi Lewi di Mesir:) dan bagi Amran perempuan itu melahirkan Harun dan Musa dan Miryam, saudara mereka yang perempuan (Bilangan 26:59)

Ketika Yesus memulai pekerjaan-Nya, Ia berumur kira-kira tiga puluh tahun dan menurut anggapan orang, Ia adalah anak Yusuf, anak Eli …. anak Aminadab, anak Admin, anak Arni, anak Hezron, anak Peres, anak Yehuda, anak Yakub, anak Ishak, anak Abraham, anak Terah, anak Nahor (Lukas 3:23, 33, 34)

Lukas menuliskan silsilah Yesus dari garis keturunan Maria, bukan Yusuf sama seperti yang ada di Matius. Karena tidak umum dalam tradisi Yahudi untuk mencantumkan mana seorang perempuan dalam silsilah, maka nama Yusuf dipakai sebagai wakil dari mana Maria. Itulah maksud Lukas mencantumkan kata “menurut anggapan orang” untuk menunjukkan bahwa yang ditulis bukan dari garis keturunan Yusuf. Selain itu, di dalam penulisan silsilah dalam bahasa Yunani (bahasa asli PB adalah bahasa Yunani) tidak ada istilah kata “menantu ……..” atau “menantu dari”, maka di situ Yusuf dituliskan sebagai anak Eli, yang mana Eli sebenarnya adalah ibu kandung dari Maria. Hal inilah yang membedakan silsilah Yesus yang ada di Matius dengan yang ada di Lukas, dimana Matius menuliskan silsilah Yesus dari garis keturunan Yusuf (orang tua legal / sah dalam hukum) sedangkan Lukas menuliskan silsilah Yesus dari garis keturunan Maria (orangtua kandung / sedarah) dan memakai nama Yusuf sebagai wakil Maria.

Hal ini juga di dukung oleh naskah di luar Alkitab, seperti Tractate Chagigah dari Talmud, dimana diceritakan seseorang bermimpi tentang penghukuman orang-orang fasik, dan di sana orang tersebut dikatakan: “Dia melihat Maria anak perempuan Eli di antara tempat penghukuman itu” (John Lighfoot, Commentary On The New Testament from Talmud and Hebraica [Oxford University Press, 1859;
with a second printing from Hendrickson Publishers Inc. 1995] Vol. 1, p. v; Vol. 3 p.55
).

Di dalam kitab Ibrani pun dikatakan: “Sebab telah diketahui semua orang bahwa Tuhan kita berasal dari suku Yehuda dan mengenai suku itu, Musa tidak pernah mengatakan sesuatu tentang imam-imam” (Ibrani 7:14)

Maka tidak mungkin bahwa Maria adalah keturunan dari Lewi (Anak Yakub) sebab orang-orang Yahudi orthodox pun paham bahwa menurut Alkitab, Mesias berasal dari keturunan Yehuda melalui Daud (cf. Kejadian 49:10-12 ; Matius 22:42-45).

Mungkin beberapa Muslim akan mengajukan pembenaran melalui Lukas 1:36 yang menunjukan bahwa Maria mempunyai hubungan kerabat dengan Elisabet, yang mana Elisabet berasal dari keturunan Harun (keturunan imam-imam) (Lukas 1:5):

Dan sesungguhnya, Elisabet sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu” (Lukas 1:36)

Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam yang bernama Zakharia, dari rombongan Abia. Isterinya juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet (Lukas 1:5)

Ayat tersebut seolah-olah menunjukkan bahwa Maria adalah saudara Elisabet, maka sama seperti Elisabet, Maria berasal dari keturunan Harun. Tetapi, ayat tersebut tidak menunjukan bahwa Maria dan Elisabet adalah saudara kandung, tetapi hanya sanak saudara. Kata Yunani yang diterjemahkan “sanak” pada ayat tersebut adalah “sungenis” yang berasal dari kata “suggenes” dan menurut NAS Exhaustive Concordance (biblos.com) kata tersebut berarti: “relative/kerabat”, “kinsman/sanak saudara” dan “cousin/sepupu”. Bisa saja Maria dan Elizabet bersaudara dari garis ibunya (Thomas Aquinas, Summa Theologica IIIa, q.31, a.2) dimana kedua ibu mereka adalah saudara kandung, yang merupakan anak kandung dari  kakek/nenek Maria dan Elisabet, yang mana kakek/nenek mereka berasal dari keturunan Yehuda. Sedangkan, ibu Elisabet saja yang menikah dengan pria dari keturunan Lewi/keturunan Harun (keturunan imam-imam) , sehingga Elisabet mempunyai darah Lewi dan Yehuda dan bisa disebut sebagai keturunan dari Lewi/Harun. Selain itu, menurut Alkitab orang-orang keturunan Lewi boleh menikahi wanita dari suku manapun yang sebangsa:

TUHAN berfirman kepada Musa: “Berbicaralah kepada para imam, anak-anak Harun, dan katakan kepada mereka: ….Ia harus mengambil seorang perempuan yang masih perawan. Seorang janda atau perempuan yang telah diceraikan atau yang dirusak kesuciannya atau perempuan sundal, janganlah diambil, melainkan harus seorang perawan dari antara orang-orang sebangsanya (Imamat 21:1, 13, 14)

Imam-imam tidak boleh minum anggur, kalau mereka hendak masuk dalam pelataran dalam. Janda atau perempuan yang telah diceraikam oleh suaminya kami mereka ambil isteri, tetapi hanya seorang perawan dari keturunan kaum Israel, atau seorang janda imam boleh mereka ambil (Yehezkiel 44:21-22)

Alkitab pun memberikan contoh seorang imam yang menjadi ruang wanita dari keturunan Yehuda:

Ketika Atalya, ibu Ahazia, melihat bahwa anaknya sudah mati, maka bangkitlah ia membinasakan semua keturunan raja dari kaum Yehuda. Tetapi Yosabat, anak perempuan raja, mengambil Yoas bin Ahazia, menculik dia dari tengah-tengah anak-anak raja yang hendak dibunuh itu, memasukan dia dengan inang penyusunya ke dalam gudang tempat tidur. Demikianlah Yosabat, anak perempuan raja Yoram, isteri imam Yoyada – ia adalah saudara perempuan Ahazia – menyembunyikan dia terhadap Atalya, sehingga ia tidak dibunuh Atalya (2 Tawarikh 22:10-11)

Yoram adalah keturunan Yehuda lewat Daud:

Kemudian Yosafat mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangnya, dan ia dikuburkan di samping nenek moyang di kota Daud, bapa leluhurnya. Maka Yoram, anaknya, menjadi raja menggantikan dia (1 Raja-Raja 22:51)

Maka matikah raja sesuai dengan firman TUHAN yang dikatakan oleh Elia. Maka Yoram menjadi raja menggantikan dia dalam tahun kedua zaman Yoram bin Yosafat, raja Yehuda, sebab Ahazia tidak mempunyai anak laki-laki (2 Raja-Raja 1:17)

Jadi, ayat-ayat tersebut mendukung bahwa Elisabet juga berasal dari garis keturunan Daud, keturunan Yehuda, lewat ibunya. Sedangkan hanya ayahnya saja lah yang berasal dari garis keturunan Harun, keturunan Lewi, sehingga Elisabet juga mempunyai garis keturunan dari Harun dari ayahnya saja. Dan seperti bukti ayat Alkitab dan dari Talmud yang telah ditunjukan di atas bahwa Maria/Maryam bukan berasal dari  garis keturunan Harun atau Lewi, tetapi dari garis keturunan Daun dan Yehuda. Jadi bila ada yang mengatakan bahwa Maria/Maryam, ibu Yesus/Isa, berasal dari garis keturunan Imran/Amram sama seperti Harun, seperti yang dinyatakan oleh Alquran, Muhammad dan Muslim, adalah SALAH BESAR!!! Sebab tidak ada bukti, baik di Alkitab maupun Alquran, yang membenarkan bahwa istilah “saudara perempuan ……..” ataupun “saudara laki-laki ………” digunakan untuk menunjukkan garis keturunan antara dua orang yang hidup di jaman yang berbeda. Istilah tersebut hanya digunakan untuk menyebut dua orang ataupun dua kaum yang bersaudara dan hidup di jaman yang sama, seperti contoh di Alquran berikut:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada (kaum) Tsamud saudara mereka Shaleh (yang berseru): “Sembahlah Allah.” Tetapi tiba-tiba mereka (jadi) dua golongan yang bermusuhan (Qs 27:45)

Ayat tersebut menunjukan bahwa kaum Tsamud adalah saudara kaum Shaleh yang hidup sejaman.

Apakah Harun merupakan mana kaum? Bisa iya bisa tidak.

Apakah Maryam merupakan mana kaum? TIDAK.

Apakah Harun dan Maryam hidup sejaman? TIDAK.

Jadi apakah bisa dikatakan bahwa “Maryam saudara perempuan Harun”? TENTU SAJA TIDAK!

Inilah salah satu dari beberapa kesalahan sejarah yang terdapat di dalam Alquran, yang membuktikan bahwa Alquran BUKAN berasal dari Tuhan Yang Maha Mengetahui.

Pos ini dipublikasikan di Kesalahan Alquran dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s